Monday, October 29, 2012

Bukittinggi Kota Wisata


KOTA WISATA

Bukittinggi merupakan kota yang terletak di provinsi Sumatera Barat daan merupakan kota kedua di provinsi tersebut sesudah padang tentunya.Bukittinggi ini tidak terlalu besar tapi memiliki potensi yang amat besar di bidang pariwisata. Ditambah lagi kuliner khasnya yang mampu menarik banyak wisatawan. Berikut beberapa objek pariwisata yang populer di Bukittinggi.

1. Jam Gadang


Inilah simbol khas Kota Bukittinggi dan provinsi Sumatera Barat di Indonesia. Dari menara Jam Gadang, wisatawan bisa melihat panorama Kota Bukittingi yang terdiri dari bukit, lembah dan bangunan berjejer di tengah kota. Jam dengan tinggi 26 meter ini menjadi jam kebesaran warga Minang sebab membawa keberuntungan dan menunjang perekonomian warga sekitarnya. Jam Gadang dikelilingi oleh mal, pasar tradisional, hingga pertokoan. Arti kata Gadang sendiri adalah besar dalam bahasa Minangkabau.
Jam Gadang yang terletak di jantung Kota Bukittinggi ini didirikan pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh sebagai hadiah dari ratu Belanda kepada controleur, sekretaris Kota Bukittinggi pada saat itu. Peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker (yang menjabat sebagai controleur Belanda saat itu) yang masih berumur enam tahun saat itu.  Proyek ini menelan biaya sekitar 3.000 Gulden dengan penyesuaian dan renovasi dari waktu ke waktu.

2. Taman Panorama dan Ngarai Sianok


Ngarai Sianok merupakan sebuah lembah elok yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, dengan Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai di Ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai Palupuh. Bentangan lembah mencapai 15 kilometer dengan lebar 200 meter dengan kedalaman jurang sampai 100 meter. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang indah dan menjadi salah satu objek wisata utama provinsi.
Karena dialiri “Batang Sianok” yang artinya sungai yang jernih, ngarai atau lembah ini disebut Ngarai Sianok. Batang Sianok kini bisa diarungi dengan menggunakan kano dan kayak yg disaranai oleh suatu organisasi olahraga air “Qurays”. Rute yang ditempuh adalah dari Desa Lambah sampai Desa Sitingkai Batang Palupuh selama kira-kira 3,5 jam. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai.

3. Lobang Jepang


Didalam wilayah Ngarai Sianok itu terdapat satu obrjek wisata lagi yaitu Lobang Jepang, Lobang Jepang ini pertama kali didirikan oleh seorang warga Jepang yang bernama Hirotada Honjyo, lahir 1 Januari 1908, di kota kecil Iizuka, Provinsi Fukuoka, Kepulauan Kyushu, Jepang Selatan. Honjyo harus membuat suatu lobang perlindungan di sekitar wilayah Ngarai,Bukittinggi atas instruksi Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Bala Tentera Jepang, Letjen Moritake Tanabe. 
Di dalam lorong bawah tanah sepanjang 1,47 km ini, terdapat 21 lorong kecil yang sebelumnya menjadi lorong-lorong untuk keperluan benteng pertahanan, seperti lorong penyimpanan amunisi, bilik serdadu militer Jepang, ruang rapat, ruang makan romusa, dapur, penjara, ruang sidang, ruang penyiksaan, tempat pengintaian, tempat penyergapan, dan pintu pelarian. Pintu masuk gua terdapat dibeberapa tempat, seperti di Ngarai Sianok, di Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi.

4.Kebun Binatang


Kebun Binatang Bukittinggi merupakan sebuah kebun binatang yang terletak di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Kebun binatang ini didirikan pada 3 Juli 1929 serta memiliki berbagai koleksi berbagai spesies dan spesimen.
Kebun Binatang Bukittinggi ini kini bernama Taman Margasarwatwa Budaya Kinantan.

5. Benteng Fort de Kock




Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Baeur tahun 1825 diatas bukit Jirek negeri Bukittinggi sebagai kubu pertahanan pemerintah Hindia Belanda menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Ketika itu Baron Hendrick Markus de Kock menjadi komandan de Roepoen dan wakil gubernur Hindia Belanda. Dari sinilah nama lokasi ini menjadi benteng Fort de Kock.



Thursday, October 4, 2012